RUMAH JAWA LAMBANG KEAGUNGAN TUHAN

RUMAH JAWA LAMBANG KEAGUNGAN TUHAN


Diakui maupun tidak diakui kalau kita mau jujur dengan diri sendiri tinggal dirumah jawa pasti hati terasa lebih sejuk adem ayem tentram dan damai dibandingkan dengan tinggal di rumah gedung/minimalis yang penuh dengan garis-garis tegas dan warna-warna yang terang. Ketika mata kita setiap hari disuguhi dengan pandangan-pandangan yang bernuansa formal, tegas, penuh garis-garis, warna-warna yang terang beringas otomatis syaraf otak kita juga akan menjadi tegang dan kaku sehingga hati kita pun akan menjadi pribadi yang keras tegas dan berperilaku tidak luwes.  Sungguh adalah hal yang sangat berbeda ketika kita masuk kedalam rumah jawa, kesan pertama adalah alami, apa adanya, kalem, luwes sejuk dan adem ayem. Pikiran dan hati pun akan tersugesti menjadi pribadi yang apa adanya, anggun, santun, luwes dan tidak kaku. Mungkin dari situlah terbentuknya kepribadian orang jawa yang terkenal sampai mancanegara dengan sikap sopan santun dan juga keluwesannya.  Marilah kita belajar menghargai warisan nenek moyang kita dengan cara melestarikan peninggalan karya-karya terbaik mereka yang sarat dengan makna dan penuh nilai-nilai keluhuran. Karena meskipun rumah jawa bergaris-garis namun garis-garis itu adalah garis alami yang diciptakan Allah Swt berupa serat kayu. Bukan dibuat-buat oleh manusia! Garis-garis, serat kasar yang nampak pada kayu, lobang alami pada kayu, bengkoknya kayu, lurusnya kayu, hitam putihnya kayu dan lain-lainnya justru pada rumah jawa menjadi keistimewaan tersendiri dan justru ditampilkan apa adanya sebagai pengahargaan/pengagungan kita terhadap ciptaaan Yang Maha Kuasa. Bukannya malah dihilangkan atau ditutup-tutupi. Sehingga setiap kita memandangi rumah kita yang terlihat hanyalah betapa indah dan agungnya ciptaan Tuhan. Sungguh tidak ada manusia manapun yang bisa meniru sebaik dan sesempurna ciptaan-Nya bahkan hanya sekedar meniru cantiknya serat kayu sekalipun. Ketika kita didalam rumah kita bisa mengagumi keindahan dan keagungan ciptaan-Nya dan selalu ingat kepada-Nya maka disaat itulah "Rumahku adalah Syurgaku".
Diakui maupun tidak diakui kalau kita mau jujur dengan diri sendiri tinggal di rumah jawa pasti akan merasakan sensasi yang berbeda, hati lebih merasa sejuk adem ayem tentram dan damai, sehingga membuat kita betah berlama2 duduk didalamnya, bahkan Anda bisa merasakan ekstase yang luar biasa ketika Anda sangat khusyuk saat menikmatinya. Ketika mata kita setiap hari disuguhi dengan pandangan-pandangan rumah selain rumah jawa yang bernuansa formal, tegas, kotak-kotak, penuh garis-garis tegas dan warna-warna yang terang, otomatis bawah sadar kita juga akan menjadi tegang dan kaku sehingga tanpa disadari akan menjadi pribadi yang keras tegas kaku dan berperilaku tidak luwes.
Sungguh sesuatu yang sangat berbeda ketika kita masuk kedalam rumah jawa, kesan pertama adalah alami, apa adanya, kalem, luwes sejuk dan adem ayem. Kita pun akan tersugesti menjadi pribadi yang apa adanya, anggun, santun, grapyak, semanak, luwes dan tidak kaku. Mungkin dari situlah awal terbentuknya kepribadian orang jawa yang terkenal sampai mancanegara dengan sikap kesantunan dan juga keluwesannya.
Marilah kita menghargai warisan nenek moyang kita dengan melestarikan peninggalan karya-karya terbaik mereka yang sarat dengan makna dan penuh nilai-nilai keluhuran. Karena meskipun rumah jawa bergaris-garis namun garis-garis itu adalah garis alami yang diciptakan Tuhan berupa serat kayu. Bukan dibuat-buat oleh manusia. Garis-garis, serat kasar yang nampak pada kayu, lobang pada kayu, bengkoknya kayu, lurusnya kayu, noda getah pada kayu dan sebagainya justru pada rumah jawa menjadi keistimewaan tersendiri dan justru ditampilkan apa adanya sebagai pengagungan kita terhadap ciptaaan Yang Maha Kuasa. Bukannya malah dihilangkan atau ditutup-tutupi. Sehingga setiap kita memandangi rumah kita yang terlihat hanyalah betapa indah dan agungnya ciptaan Tuhan. Sungguh tidak ada manusia manapun yang bisa meniru sebaik dan sesempurna ciptaan-Nya bahkan hanya sekedar meniru cantiknya serat kayu sekalipun. Ketika kita didalam rumah kita bisa mengagumi keindahan dan keagungan ciptaan-Nya dan selalu ingat kepada-Nya maka disaat itulah "Rumahku adalah Syurgaku".